GURU ADALAH PETANI KEHIDUPAN

 Oleh: Anis Susiana, S.Pd.

Ki Hajar Dewantara mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Peserta didik itu ibarat biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Jika biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang berkualitas maka biji itupun akan dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung yang disemai itu adalah bibit yang berkualitas baik namun jika tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta "tangan dingin" dari pak tani, maka biji jagung itu mungkin akan tetap tumbuh namun tidak akan optimal.

Membaca pengibaratan tersebut begitu membuat hati penulis tergetar. Sebagai pendidik, penulis merasa masih sangat jauh tertinggal dari apa yang dilakukan oleh para petani tersebut. Tentang bagaimana mereka merawat tanaman-tanaman mereka dengan penuh perhatian, kasih sayang, kesabaran, dan selalu berjuang berdamai dengan kondisi alam dan zaman serta tak henti memanjatkan do'a agar tanaman-tanaman yang dirawat dapat tumbuh dengan hasil terbaik. 


Yang diyakini benar selama ini ternyata adalah kesalahan!!!

Apa yang penulis yakini selama ini adalah bahwa penulis merasa telah melaksanakan kewajiban dengan baik jika sudah menyampaikan materi secara lengkap dan terperinci kepada siswa dan selama proses pembelajaran siswa tenang dan damai. Penulis tidak terfikirkan apakah mereka merasa nyaman dan bahagia selama proses pembelajaran, hal apakah yang cocok bagi mereka agar materi yang disampaikan bisa diterima dengan mudah, apakah rasa takut ataukah penghormatan yang mereka tunjukkan?

Begitu dalam makna filosofi petani dari Ki Hajar Dewantara tersebut. Mengapa harus petani? 

Petani akan merawat tanaman-tanaman mereka tanpa kenal waktu. Sebelum matahari terbit mereka berangkat ke ladang hingga sore hari untuk merawat tanaman-tanaman tersebut bahkan sampai malam hari. Mengapa tidak diibaratkan sebagai penjual atau pelukis? karena memang guru selayaknya bukan penjual ilmu bukan pula pelukis yang melukis di kertas kosong. Seperti pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa anak bukanlah kertas kosong, mereka lahir dengan kodratnya sendiri yang tidak bisa dirubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut. Guru adalah penanam moral dan budi pekerti anak dengan harapan mereka tumbuh menjadi manusia yang mandiri sehingga mampu mengarungi kehidupan di masa depan baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.


Hikmah yang diperoleh dari hasil perenungan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bagi penulis 

Bahwa dalam proses pembelajaran itu harus berpihak pada peserta didik dengan indikator sebagai berikut:

  • peserta didik merasa bahagia dan bukan tertekan, 
  • guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi dan menjejali siswa dengan semua pemikiran guru tetapi juga membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan sendiri konsep yang akan diajarkan
  • Guru mendesain pembelajaran sesuai dengan karakter peserta didik dan kondisi lingkungan
  • terbentuk komunikasi dua arah dengan guru berperan sebagai fasilitator
  • Guru siap menerima setiap keluh kesah siswa
  • Guru harus selalu totalitas, sabar dan jangan hitung-hitungan
  • Guru harus bisa memberi contoh perilaku yang baik dan memberikan pemikiran-pemikiran yang positif bagi peserta didik
Dari hasil perenungan dan  memperhatikan indikator proses pembelajaran yang berpihak pada peserta didik tersebut, penulis akan berusaha merancang dan melaksanakan desain pembelajaran yang berpihak pada peserta didik dan tentunya disesuaikan dengan karakter peserta didik serta lingkungan yang ditinggali. 

Sebagaimana petani yang merawat tanaman-tanamannya, kita sebagai guru sudah seharusnya bekerja dan berjuang sepenuh hati karena kita adalah petani kehidupan yang bertanggungjawab menanamakan moral dan budi pekerti kepada peserta didik dan menuntun mereka serta jangan lupa sematkan do'a dengan harapan anak didik nantinya mampu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan mempu mengarungi hidup baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. 

Tetap semangat para pendidik Indonesia, dan mari terus berjuang bersama demi pendidikan Indonesia yang lebih baik. 


Komentar

Posting Komentar